Minggu, 03 April 2011

emotional page

Ini adalah tulisan penuh emosi dariku…
Gak tau kenapa, apa yang terjadi akhir2 ni begitu mengetuk pemikiranku.
Ini kisah mengenai seorang teman, memang kita tidak sangat dekat. Tapi kata teman tidak berarti mati jika kita tidak dekat.

Awal bertemu adalah saat MOP (masa orientasi siswa). Di sekolah baru kami, SMK yang punya nama di kota kami. Aku melihatnya sebagai orang yang mudah dikenali dan mungkin menonjol diantara yang lain. Munkin karena wajahnya sepeti karakter Raimon Taro/Monta dari Eyeshield 21.

Kami sekelas dan beberapa kali mengobrol hingga menjadi dekat. Namun pada akhirnya kami berbeda kelas. Sempat kami mengobrol kembali saling bertanya bagaimana keadaan kelas yang baru.

Waktu berjalan dan kami sudah melakukan banyak hal di jalan kami masing-masing. Tapi.. heihei,, kita masih satu sekolah n satu jurusan kok!! Belum pergi juauh..!!
Pernah dia bilang bahwa dia tidak begitu peduli dengan jurusan apa yang ia pilih. Apa yang ia inginkan adalah mahir berbicara di depan umum, karena menurutnya itu adalah hal hebat dan tidak semua orang bisa melakukannya. Ia mengikuti salah satu ekskul dan mendapatkan posisi tinggi di sana. Tepat baginya untuk mengasah bakat yang ia inginkan itu.

Ya, benar sekali. Aku juga merasakan pentingnya mahir bicara di depan khalayak. Komunikasi dengan banyak orang adalah hal penting, karena sadar dan ingat pelajaran IPS, kita adalah zoon politicon alias makhluk social.

Namun apa yang terjadi sekarang membalikkan apa yang terbayangkan. Komunikasi terkadang sulit dilakukan. Sulit ditujukan bagi mereka yang mau menerima dan mendengar. Temanku itu dianiaya dan dijadikan bulan-bulanan hanya karena salah paham. Tidak, bukan itu, ini semua karena orang yang menganiaya dirinya adalah ORANG-ORANG BODOH YANG NYARIS HILANG KEWARASANNYA.

Entah mengapa aku sangat emosi. Ya aku sadar ini menyangkut masa depan temanku itu. Karena kini dirinya akan menjadi “korban”. Harga dirinya telah direnggut. Terlebih jika ia masih bertahan di sekolah hari-harinya akan berbeda. Dipenuhi tekanan mental dan serangan psikologis. Mungkin aku juga akan sangat tersiksa jika diposisinya.

Dan kabar terakhir yang kudengar dia hendak keluar dari sekolah ini. Biadab mereka! Sebenarnya aku kasihan kepada para biadab itu karena mereka juga korban dari ketidakpedulian dan kekurangan akan sesuatu sehingga ada di jalan yang salah.

Sial, siapa yang harus disalahkan? Mereka? Orang-orang yang mencetak hidup mereka? Ato temanku yang tidak tahu apa-apa itu??

Ato mungkin aku yang hanya jadi pengecut, yang tidak bisa membantu temanku itu?

Aku hanya berharap temanku itu dapat bertahan dan dikuatkan olehNya. Semua ini selalu ada rancangan sempurna milikNya.

Dan bagi mereka,, semoga kalian disadarkan lebih cepat sebelum penyesalan yang lebih dahulu merenggut ketenangan jiwa kalian…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar